A. FRASA
Frasa
adalah bagian kalimat yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang hanya
menduduki satu fungsi atau jabatan Didalam kalimat terdapat subjek (s),
predikat (p), objek (o) keteranagan (k), dan pelengkap (pel).
Contoh:
Dokter
membaca buku
Saya
membeli gula di pasar
frasa
di bedakan atas:
1. Berdasarkan
kedudukanya
a. Frasa
setara yaitu frasa yang hubungan antara unsurnya setara.
Contoh
:
naik
turun
mondar
mandir
Asal
usul
b. Frasa
setara bertingkat yaitu frasa yang hubungan antar unsurnya tidak setara, salah
satu unsure menjadi pusat.
Contoh:
Uang
muka
tehnik
baru
rakyat
jelata
2. Berdasarkan
jenis kata yang menjadi unsur intinya.
a. Frasa
nominal; frasa yang unsur pusatnya kata benda
Contoh:
kamar
mandi
baju
pesta
b. Frasa
verbal ; frasa yang unsur pusatnya kata kerja
Contoh:
Sedang
pergi
Ingin
sukses
c. Frasa
abjektival ; frasa yang unsur sifatnya mengandung kata sifat
Contoh:
Amat
bodoh
Sangat
lelet
d. Frasa
adverbial ; frasa yang unsure pusatnya mengandung kata keterangan
Contoh:
Tadi
siang
Tahun
lalu
Minggu
kemarin
e. Preposisioanal(kata
depan); frasa yang terdiri dari unsure kata depan dan kata benda
Contoh:
Dari
kantor
Di
rumah
3. Berdasarkan
distribusi unsurnya
a. Frasa
eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua
unsurnya. Contoh :
Di
lapangan
Ke
pasar
b. Frasa
endosentrik adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya,
baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya. Frasa endosentrik dibagi
menjadi tiga golongan:
-
Frasa endosentrik koordinatif yaitu
frasa yang unsur – unsurnya setara.
Contoh:
aku
kamu
nenek
kakek
-
Frasa endosentrik atributif yaitu frasa
yang salah satu unsurnya merupakan atribut.
Contoh
:
tahun
depan
Sedang
makan
-
Frasa endosentrik apositif yaitu frasa
yang salah satu unsurnya merupakan aposisi.
Contoh
:
nony
teman dekatku
dia
sahabat mamak
B.
KLAUSA
1. Pengertian Klausa
Klausa adalah satuan
gramatikal yang memiliki tataran di atas frasa dan di bawah kalimat, berupa
kelompok kata yang sekurang-kurangnyaterdiri atas subjek dan predikat, dan
berpotensi untuk menjadi kalimat (Kiridalaksana, 1993:110). Dikatakan mempunyai
potensi untuk menjadi kalimat karena meskipun bukan kalimat, dalam banyak hal
klausa tidak berbeda dengan kalimat, kecuali dalam hal belum adanya intonasi
akhir atau tanda baca yang menjadi ciri kalimat.
Dalam konstruksinya
yang terdiri atas S dan P klausa dapat disertai dengan O, Pel, dan Ket, ataupun
tidak. Dalam hal ini, unsur inti klausa adalah S dan P. tetapi, dalam
praktiknya unsur S sering dihilangkan. Misalnya dalam kalimat majemuk (atau
lebih tepatnya kalimat plural) dan dalam kalimat yang merupakan jawaban.
(Ramlan 1987:89). Misalnya :
(1) Bersama dengan istrinya,
Bapak Soleh datang membawa oleh-oleh.
Kalimat (1) terdiri
atas tiga klausa, yaitu klausa (a) bersama dengan istrinya, klausa
(b)Bapak Soleh datang, dan klausa (c) membawa oleh-oleh. Klausa
(a) terdiri atas unsur P, diikuti Pel, klausa (b) terdiri atas S dan P, dan
klausa (c) terdiri atas P diikuti O. Akibat penggabungan ketiga klausa
tersebut, S pada klausa (a) dan (c) dilesapkan.
2. Ciri-ciri Klausa
Adapun ciri-ciri
klausa adalah sebagai berikut: (1) dalam klausa terdapat satu
predikat, tidak lebih dan tidak kurang; (2) klausa dapat menjadi kalimat jika
kepadanya dikenai intonasi final; (3) dalam kalimat plural, klausa merupakan
bagian dari kalimat; (4) klausa dapat diperluas dengan menambahkan atribut
fungsi-fungsi yang belum terdapat dalam klausa tersebut; selain dengan
penambahan konstituen atribut pada salah satu atau setiap fungsi sintaktis yang
ada.
3. Jenis-jenis Klausa
Klausa dapat
diklasifikasikan berdasarkan empat hal, yaitu (1) kelengkapan unsur
internalnya: klausa lengkap dan klausa tak lengkap, (2) ada–tidaknya kata yang
menegatifkan P: klausa negative dan klausa positif, (3) kategori primer
predikatnya: klausa verbal dan klausa nonverbal, (4) dan kemungkinan
kemandiriannya untuk menjadi sebuah kalimat: klausa mandiri, klausa tergabung.
a. Klausa Lengkap dan
Klausa Tak Lengkap
Berdasarkan kelengkapan unsur internalnya,
klausa dibedakan menjadi dua yaitu, klausa lengkap dan klausa tak lengkap.
Klausa lengkap ialah klausa yang memiliki unsur internal lengkap, yaitu S dan
P. Klausa lengkap ini berdasarkan struktur internalnya, dibedakan lagi menjadi
dua yaitu klausa susun biasa dan klausa lengkap susun
balik.
Klausa lengkap susun biasa ialah klausa
lengkap yang S-nya terletak di depan P. adapun klausa lengkap susun balik
atau klausa lengkap inversi ialah klausa lengkap yang S-nya
berada di belakang P, misalnya :
(2) Tulisan Hendi sangat
berbobot.
Klausa (2) disebut klausa lengkap susun biasa
karena S-nya yaitu tulisan Hendi berada di depan P, sangat
berbobot.
Klausa tak lenngkap atau dalam istilah Verhaar
(1999:279) klausa buntung merupakan klausa yang unsure
internalnya tidak lengkap karena di dalamnya tidak terdapat unsur S dan hanya
terdapat unsur P, baik disertai maupun tidak disertai unsur P, Pel, dan Ket.
Misalnya :
(3) terpaksa berhenti
bekerja di perusahaan itu
Klausa (3) bisa berubah menjadi klausa lengkap
jika di sebelah kirinya ditambah S, misalnya ditambah frasa istri
saya sehingga menjadi (3) Istri saya terpaksa berhenti bekerja
di perusahaan itu.
b. Klausa Negatif dan
Klausa Positif
Berdasarkan ada tidaknya kata negatif pada P,
klausa dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu klausa negatif dan klausa
positif. Klausa negatif ialah klausa yang di dalamnya terdapat kata negative,
yang menegasikan P.menurut Ramlan (1987: 137), yang termasuk kata negatif, yang
menegasikan P ialah tidak, tak, tiada, bukan, dan belum.
Berikut ini adalah contoh klausa negative :
(4) Deni tidak mengurus
kenaikan pangkatnya.
Klausa (4) merupakan klausa negatif karena
terdapat kata tidak yang menegasikan mengurus.
c. KLausa Verbal dan
Klausa Nonverbal
Berdasarkan kategori primer kata atau frasa
yang menduduki fungsi P pada konstruksinya, klausa dibedakan atas klausa verbal
dan klausa nonverbal. Klausa verbal ialah klausa yang P-nya terdiri atas kata
atau frasa golongan V. dilihat dari golongan verbanya klausa verbal dibagi lagi
menjadi klausa verbal intransitif dan klausa verbal transitif. Klausa verbal
transitif ialah klausa yang mengandung verba transitif, dan klausa verbal intransitif
ialah klausa yang mengandung verba intransitif.
Contoh klausa verbal intransitif ialah sebagai
berikut :
(5) Taufik Hidayat tampil
tidak maksimal di Jepang.
(6) Pengidap AIDS
bertambah.
Klausa verbal transitif, dilihat dari wujud
ketransitifan P-nya dapat dibedakan menjadi (1) klausa aktif, (2) klausa pasif,
(3) klausa reflektif, dan (4) klausa resiprokal (Ramlan, 1987: 145-149). Klausa
aktif ialah klausa yang P-nya berupa verba transitif aktif. Klausa pasif ialah
klausa yang P-nya berupa verba transitif pasif. Klausa reflektif ialah klausa
yang P-nya berupa verba transitif reflektif, yaitu verba yang menyatakan
“perbuatan’ yang mengenai ‘pelaku’ perbuatan itu sendiri. Pada
umumnya verba itu berprefiks meng- yang diikuti kata diri.Adapun
klausa resiprokal adalah klausa yang P-nya berupa verba transitif resiprokal,
yaitu verba yang menyatakan kesalingan.
Klausa nonverbal ialah klausa yang berpredikat
selain verba. Klausa nonverbal masih bisa dibedakan lagi menjadi (1) klausa
nominal, (2) klausa adjektival, (3) klausa preposisional, (4) klausa numeral,
dan (5) klausa adverbial. Contoh:
(7) Yang kita bela kebenaran
(8) Budi pekertinya mulia
(9) Aku bagai nelayan
yang kehilangan arah
(10) Yang dikorupsi 300
juta rupiah
(11) Kedatangannya kemarin
sore
d. Klausa Mandiri dan
Klausa Tergabung
Klausa mandiri merupakan klausa yang
kehadirannya dapat berdiri sendiri. Klausa mandiri berpotensi untuk menjadi
kalimat tunggal. Misalnya :
(12) Merokok dapat
menyebabkan kanker
1) Klausa Mandiri
Klausa mandiri atau klausa bebas merupakan klausa yan
kehadirannya dapat berdiri sendiri. Klausa mandiri berpotensi untuk menjadi
kalimat tunggal. Misalnya:
- Merokok dapat
menyebabkan kanker
- Nirina sedang belajar
2) Klausa Tergabung
Klausa tergabung atau
klausa terikat adalah klausa yang kehadirannya untuk menjadi sebuah kalimat
plural tergabung dengan klausa lainnya. Dalam kalimat plural, klausa tergabung
dapat berupa klausa koordinatif, atau klausa subordinatif. Contoh:
(1)
Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi,
dan gangguan kehamilan dan janin.
(2)
(2a) Nirina sedang belajar ketika terjadi gempa itu.
(3)
(2b) Karena baru pulang sesudah tugasnya selesai, Sri tidak
dapat menghadiri rapat.
Jika dicermati,
konstruksi (1) berbeda dengan konstruksi (2). Dalam konatruksi (1) terdapat
klausa-klausa tergabung secara koordinatif, sedangkan dalam konstruksi (2)
terdapat klausa-klausa tergabung secara subordinatif.
Klausa
Koordinatif
Klausa koordinatif
dapat dijumpai dalam kalimat plural atau majemuk setara. Dalam kalimat plural
atau majemuk setara, semua klausanya berupa klausa koordinatif. Klausa tersebut
dinamakan klausa koordinatif karena secara gramatik dihubungka secara
koordinatif oleh penghubung-penghubung koordinatif dan, atau, tetapi,
lagi pula, lalu, namun, sebaliknya, malahan, dan lain-lain.
Klausa koordinatif
terdiri atas (1) koordinasi netral, (2) koordinasi kontrastif, (3) koordinasi
alternatif, (4) koordinasi konsekutif, yang berturut-turut dapat dilihat dalam
contoh-contoh kalimat berikut.
(1) Saya menulis
artikel itu, menyunting, dan mengirimkannya ke media massa
(2) Mencari ilmu itu
sulit, tetapi mengamalkannyajauh lebih sulit
(3) Saudara mau
bekerja atau melanjutkan studi ke jenjang S-2?
(3) Harga sepeda motor
itu relative mahal, jadi perlu diangsur.
Klausa Subordinatif
Klausa subordinatif
dapat dijumpai dalam kalimat plural bertingkat. Jadi, dalam kalimat plural
bertingkat selain terdapat klausa atasan yang biasa dikenal dengan klausa
induk, Klausa inti, atau klausa matriks terdapat pula
klausa bawahan atau klausa sematan atau klausa subordinatif. Klausa bawahan
dapat dibedakan lagi menjadi klausa berbatasan dan klausa terkandung.
Klausa
berbatasan, merupakan klausa bawahan yang tidak wajib hadir dalam kalimat
plural. Klausa berbatasan dapat dibedakan menjadi enam tipe yaitu klausa-klausa
berbatasan:
(1)
final, contoh
Irfan rajin mengaji agar tidak menyesal dalam kehidupan
setelah mati.
(2)
kausal, contoh
Rombogan Suciwati merasa kecewa karena tidak
diperkenankan menjenguk Presiden Soeharto
(3)
kondisional, contoh
Jika diundang, ia mau datang.
(4)
konsekutif, contoh
Pendapatannya kecil, sehingga sampai sekarang belum
mampu membeli mobil.
(5)
konsesif, contoh
Orang itu tetap rendah hati meskipun telah menyandang
banyak prestasi.
(6)
temporal, contoh
Rui Costa, playmaker asal Portugal datang ke La
Viola setelah tiga musim memperkuat Benfica.
Dalam contoh-contoh
tersebut, klausa yang dimulai dengan konjungsi subordinatif sepertiagar,
karena, jika, sehingga, meskipun, dan setelah-lah yang
berturut-turut dinamakan sebagai klausa berbatasan.
Klausa
terkandung, merupakan klausa bawahan yang kehadirannya bersifat wajib.
Berdasarkan fungsinya dalam kalimat plural bertingkat, klausa terkandung dapat
dikelompokkan menjadi klausa pewatas atau klausa modifikasi dan klausa
pemerlengkap.
§ Klausa pewatas
Klausa pewatas atau
klausa pewatasan ialah klausa subordinatif yang kehadirannya berfungsi mewatasi
atau mempertegas makna kata atau frasa yang diikutinya. Contohnya ialah
beberapa klausa dari sejumlah klausa dalam kalimat plural berikut:
- Sifat-sifat yang baik
itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan
yang besar.
- Rombongan Suciwati
tidak diperkenankan menjenguk mantan presiden Soeharto yang sedang berbaring di
Rumah Sakit Pusat Pertamina Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
§ Klausa Pemerlengkap
Klausa pemerlengkap
atau klausa pemerlengkapan merupakan klausa yang berfungsi melengkapi (atau
menerangkan spesifikasi hubungan yang terkandung dalam) verba matriks. Klausa
pemerlengkap dibedakan lagi menjadi: (1) klausa pemerlengkap preposisional, (2)
klausa pemerlengkap eventif, (3) klausa pemerlengkap perbuatan.
Klausa pemerlengkap
dikatakan bersifat preposisional karena klausa tersebut biasanya berpenanda
kata bahwa yang menyatakan suatu proposisi. Contoh:
- Dokter berkata, “ASI
sangat baik untuk anak.”
Dokter berkata bahwa ASI
sangat baik untuk anak.
- Berita bahwa
mahasiswa Unnes juara I dalam LKTIM bidang sosial, tingkat wilayah B,
pada tanggal 22-23 Mei 2006 menjadi sorotan media kampus.
Klausa eventif
meliputi klausa yang menyatakan peristiwa dan klausa yang menyatakan proses.
Misalnya ialah klausa yang dimulai dengan kata peristiwa dan proses pada
kalimat-kalimat berikut.
- Peristiwa Joko mengundurkan diri
(Peristiwa pengunduran diri Joko) dari pekerjannya sudah terduga sebelumnya.
- Proses orang menyusun sebuah
artikel (Proses penyusunan sebuah artikel) hanya diketahui oleh para penulis.
Adapun klausa
perbuatan dapat dibedakan lagi menjadi klausa perbuatan yang dilakukan, klausa
perbuatan yang tidak dilakukan, dan klausa perbuatan yang mungkin dilakukan.
Klausa perbuatan yang
dilakukan dapat ditandai oleh verba melihat, menyaksikan, mengetahui,
berhasil, berhenti, dan mulai. Misalnya:
- Saya melihat (perbuatan)
Zahra mendorong Ela
Zahra mendorong Ela
- Prof. Dr. Fathur
Rokhman mulai meneliti masalah itu pada tahun yang lalu
Prof. Dr. Fathur
Rokhman meneliti masalah itu
Klausa perbuatan yang
tidak dilakukan dapat ditandai oleh verba mencegah, menolak,
gagal, dan lupa. Misalnya:
- Ayah mencegah kami
membawa uang saku ke sekolah
Kami tidak membawa
uang saku ke sekolah
- Imron gagal mengikuti
lomba
Imron tidak mengikuti
lomba
Adapun klausa
perbuatan yang mungkin dilakukan dapat ditandai oleh verbabermaksud,
berniat, bertekad, merencanakan, menganjurkan, dan menyarankan.Misalnya:
- Farah bermaksud memohon
izin untuk tidak datang ke kampus
Farah memohon izin;
Farah tidak memohon izin
- Samdum mengajak Dian
pergi ke Mal Ciputra
Dian pergi ke Mal
Ciputra; Dian tidak pergi ke Mal Ciputra
ANTAR KALIMAT
Konjungsi
antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat
yang lain. Oleh karena itu, konjungsi ini selalu memulai satu kalimat yang baru
dan huruf pertamanya ditulis dengan huruf Kapital.
Macam-macam konjungsi antarkalimat
:
1. Konjungsi yang menyatakan
pertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya, seperti biarpun
demikian/begitu, sekalipun demikian/begitu, sesungguhnya demikian/begitu,
walaupun demikian/begitu, dan meskipun demikian/begitu.
Contoh : Saya
tidak suka dengan cara dia berbicara. Walaupun demikian,saya harus tetap menghormatinya.
2. Konjungsi yang menyatakan lanjutan
dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya, seperti sesudah itu,
setelah itu, dan selanjutnya.
Contoh :
Untuk hari ini, yang akan saya pelajari pertama adalah pelajaran Bahasa
Indonesia. Setelah itu, saya akan
belajar Matematika.
3. Konjungsi yang menyatakan adanya
hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan
sebelumnya, seperti tambahan pula, lagi pula, dan selain
itu.
Contoh : Kami
menyambut tahun baru dengan kemeriahan kembang api.Selain itu, suara terompet
juga ikut menambah semaraknya suasana tahun baru.
4. Konjungsi yang menyatakan
kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya, seperti sebaliknya.
Contoh :
Janganlah kita membuang sampah di sungai ini! Sebaliknya, kita
harus menjaganya agar tetap bersih untuk mencegah terjadinya banjir.
5. Konjungsi yang menyatakan keadaan
yang sebenarnya, seperti sesungguhnya dan bahwasanya.
Contoh :
Temanku mengalami kecelakaan tadi siang. Sesungguhnya, aku sudah mencegahnya untuk tidak mengendarai sepeda motor saat hujan
tadi siang.
6. Konjungsi yang menguatkan keadaan
yang dinyatakan sebelumnya, seperti malahan dan bahkan.
Contoh : Penduduk
di Indonesia banyak yang mengalami masalah ekonomi. Bahkan, ada penduduk yang sampai bunuh diri karena masalah
ekonomi tersebut.
7. Konjungsi yang menyatakan pertentangan
dengan keadaan sebelumnya, seperti namun dan akan tetapi.
Contoh :
Situasi di desa kami sudah cukup aman setelah terjadi gempa tadi pagi. Akan tetapi, pihak yang berwenang menyuruh warga agar tetap waspada
karena ada kemungkinan terjadinya gempa susulan.
8. Konjungsi yang menyatakan
konsekuensi, seperti dengan demikian.
Contoh : Kamu
telah terpilih menjadi ketua kelas bulan ini. Dengan demikian, kamu harus menjalani tugasmu dengan sebaik-baiknya.
9. Konjungsi yang menyatakan akibat,
seperti oleh karena
itu dan oleh sebab itu.
Contoh : Aku
sudah melarangnya untuk melakukan hal itu. Oleh karena itu,biarkan saja dia merasakan akibatnya.
10. Konjungsi yang menyatakan kejadian
yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya, seperti sebelum itu.
Contoh :
Sukanto telah berhasil memecahkan rekornya sendiri dalam ajang SEA Games tahun
ini. Sebelum itu, dia juga pernah memecahkan rekor atas namanya sendiri
pada ajang SEA Games tiga tahun yang lalu.
GRAFIK
Grafik Penjualan Tiket
dan Jumlah Pengunjung di Goa Akbar
![]() |
Cara Membaca :
Simpulan grafik
diperoleh dengan mencermati data pada grafik kemudian diberi pendapat . Data pada grafik tersebut: jumlah pengunjung pada September: 250; Okt: 250;
Nov: 251; Des: 302; tiket terjual: pada September: 250;
Okt: 250; Nov: 2002; Des: 255. Rata-rata pengunjung lebih banyak dibandingkan dengan tiket terjual.
TABEL
Penjualan sarung dan baju koko di Toko
Barokah pada bulan September - Desember

Cara Membaca :
-
Penjualan
sarung tertinggi pada bulan desember
-
Penjualan
baju koko tertinggi pada bulan desember
-
Pada
bulan oktober penjualan sarung dan baju koko jumlahnya sama
-
dll

Tidak ada komentar:
Posting Komentar